Sumber: Amazon.in
Resensi Buku: How Much Land Does a Man Need?
A. Identitas Buku
Judul Buku : How Much Land Does a Man Need?
Pengarang : Leo Tolstoy
Tahun Terbit : 1886
Jumlah Halaman : 21
Bahasa Orisinil : Bahasa Rusia
ISBN : 978-0141397740
B. Sinopsis
How Much Land Does a Man Need menggambarkan secara kronologis pergumulan manusia sepanjang masa dalam mengejar hal duniawi. Buku ini merupakan salah satu hasil karya tulis singkat yang penuh arti oleh Leo Tolstoy terhadap perspektifnya dalam naluri alamiah manusia sebagai makhluk fana. Tokoh utama di dalam buku ini adalah Pahom, seorang miskin pekerja keras dengan ambisi luar biasa untuk memperoleh lebih banyak lahan dan tanah bagi dirinya dan keluarganya.
Diceritakan bahwa Pahom tanpa sengaja mendengarkan percakapan antara istrinya yang sederhana bersama saudari sang istri yang menikahi seorang pedagang di kota. Sang saudari yang datang berkunjung membangga-banggakan kenyamanan kehidupan yang ia rasakan di kota dan membandingkannya dengan kehidupan sederhana Pahom beserta sang Istri di perdesaan. Kendati sang Istri yang tidak terpengaruh oleh semua celaan itu, sebuah ambisi dalam diri Pahom tersulut api. Keinginan dan ketamakan memakan jiwanya dan iblis berseru-seru gembira di dalam ruangan itu bersama dengan Pahom. Disitulah awal mula seluruh rangkaian konflik dalam cerita tersebut.
Pahom berhasil mendapatkan sepetak tanah miliknya sendiri setelah bertahun-tahun penuh damba. Pada awalnya, ia merasa puas dengan capaian yang ia dapatkan tetapi seiring dengan bergantinya musim Pahom menginginkan sesuatu yang lebih. Kepuasaan yang ia rasakan turut sirna dan Pahom berangkat untuk mencari lebih banyak lagi lahan bagi dirinya dan keluarganya. Pahom percaya bahwa dengan kekuasaan lahan yang lebih luas, hidupnya akan lebih aman dan sejahtera, serta ia tidak akan perlu takut pada siapa pun juga bahkan iblis sekalipun.
Pahom melakukan perjalanan jauh menuju sebuah bangsa tanah asing yang dipercaya memberikan tanah kepada para penduduknya dengan kesepakatan yang mudah dan menguntungkan. Pahom mendapat kesempatan tersebut yaitu ia boleh memiliki tanah seluas yang mampu ia kelilingi dengan berjalan kaki dari matahari terbit hingga terbenam, dengan syarat jika ia tidak kembali ke titik awal sebelum matahari terbenam maka seluruh uang, yang ia bayarkan di muka, akan hangus dan ia tidak mendapat tanah apa pun.
Hari penentuan pun tiba, Pahom memulai perjalanannya sejak pagi. Awalnya ia merencanakan jalur yang wajar, tetapi ketamakan membutakan matanya ketika ia melihat tanah yang begitu subur dan luas. Pahom tergoda untuk terus memperlebar lingkar perjalanannya. Menjelang sore, Pahom menyadari bahwa jarak dirinya menuju titik awal masih sangat jauh. Dalam kondisi tubuh yang semakin lemah, ia memaksakan diri untuk berlari kembali ke titik awal. Dengan sisa tenaga terakhir, Pahom berhasil mencapai titik awal tepat saat matahari terbenam namun sesaat kemudian ia roboh dan meninggal dunia.
Sang iblis menertawakannya dan menyayangkan betapa Pahom adalah seorang pria yang hebat. Pelayan Pahom menguburkannya di tanah tersebut. Tolstoy menutup kisah ini dengan kalimat yang sarat makna: manusia hanya membutuhkan tanah sepanjang tubuhnya sendiri, yakni sebatas untuk kuburan saat ia meninggal dunia. Keserakahan Pahom menjadi ironi, ia mengorbankan nyawanya demi tanah yang pada akhirnya tidak bisa ia nikmati.
C. Keunggulan dan Kekurangan
Keunggulan utama buku ini terletak pada kekuatan pesan moralnya yang universal dan relevan lintas zaman. Tolstoy berhasil mengkritik keserakahan manusia melalui alur cerita yang sederhana namun sarat makna. Tokoh Pahom digambarkan secara realistis sebagai manusia biasa dengan ambisi yang perlahan berkembang menjadi kerakusan, sehingga pembaca mudah berempati sekaligus merefleksikan diri. Gaya bahasa Tolstoy yang lugas dan tidak bertele-tele membuat pesan moral tersampaikan secara efektif. Selain itu, konflik yang dibangun bersifat progresif dan klimaks cerita disajikan secara ironis, memberikan kesan kuat dan membekas bagi pembaca.
Di sisi lain, kekurangan buku ini terletak pada pengembangan karakter yang relatif terbatas. Pahom lebih berfungsi sebagai simbol keserakahan manusia daripada tokoh dengan kompleksitas psikologis yang mendalam. Tokoh-tokoh pendukung juga tidak mendapat porsi pengembangan yang signifikan, sehingga cerita terasa berpusat pada satu sudut pandang saja. Selain itu, karena fokus utama cerita adalah penyampaian pesan moral, unsur kejutan dan dinamika konflik menjadi cukup mudah ditebak sejak pertengahan cerita.
D. Penilaian Penulis (subjektif)
Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak buku Leo Tolstoy yang telah berhasil membekas dalam pikiran. Buku ini sangat singkat dan relatif lebih mudah untuk dibaca dibandingkan beberapa buku karya Tolstoy lainnya. Meskipun demikian, pesan moral yang disampaikan melalui rangkaian cerita di dalam buku memberikan kesan yang mendalam terhadap diferensiasi sikap ambisius yang membangun dan keserakahan yang menjatuhkan.
Kehadiran sang Iblis dalam beberapa tempat di cerita ini juga memberikan emosi tersendiri terhadap bagaimana dunia dapat dengan mudah menyetir pergumulan manusia. Secara keseluruhan, buku ini memberikan kesan reflektif dan relevan, serta layak dibaca sebagai pengingat bahwa keinginan yang tidak terkendali dapat berujung pada kehancuran diri sendiri.
E. Kesimpulan dan Rekomendasi
How Much Land Does a Man Need? merupakan karya sastra singkat yang sarat akan makna dan refleksi mendalam mengenai naluri dasar manusia dalam mengejar kepemilikan duniawi. Melalui perjalanan hidup Pahom, Leo Tolstoy secara tajam menggambarkan bagaimana ambisi yang pada awalnya tampak wajar dapat berkembang menjadi ketamakan yang justru menjerumuskan manusia pada kehancuran dirinya sendiri. Kesederhanaan alur cerita berpadu dengan ironi pada bagian akhir menjadikan pesan moral buku ini tersampaikan secara kuat dan membekas, sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan kembali batas antara kebutuhan dan keinginan.
Berdasarkan keseluruhan isi dan pesan yang disampaikan, buku ini direkomendasikan untuk dibaca oleh berbagai kalangan, khususnya pelajar dan mahasiswa, sebagai bahan refleksi atas nilai kesederhanaan, kecukupan, dan pengendalian diri. Dengan ketebalan yang relatif singkat serta bahasa yang mudah dipahami, buku ini tidak hanya cocok sebagai bacaan sastra klasik, tetapi juga relevan untuk dijadikan bahan diskusi mengenai etika kehidupan dan pergumulan manusia dalam menghadapi ambisi duniawi.
Penulis: Nadia Jovita
Baca Artikel Menarik Lainnya!
Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon Soal Pemer...
14 June 2025
Waktu Baca: 3 menit
Baca Selengkapnya →
Ketika Pemerintahan Berhenti Berjalan: Mengurai F...
14 October 2025
Waktu Baca: 6 menit
Baca Selengkapnya →
Muak Dengan Korupsi: Albania Angkat AI Sebagai Men...
15 September 2025
Waktu Baca: 5 menit
Baca Selengkapnya →