Sumber: SinPo.id
Konflik Israel-AS vs Iran Semakin Memanas: Gugurnya Pemimpin Iran dan Gelombang Reaksi Internasional
Jakarta, Kunci Hukum - Israel-Amerika Serikat (AS) melancarkan serangkaian penyerangan rudal terhadap Iran pada Sabtu, (28/02/2026). Rangkaian serangan ini menargetkan kota-kota besar dan fasilitas strategis serta militer di Iran. Konflik ini menjadi sorotan dunia internasional, terlebih usai menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kronologi Serangan Israel-AS terhadap Iran
Serangan Israel-AS terhadap Iran dilatarbelakangi oleh gagalnya negosiasi perihal nuklir. Akibat kegagalan tersebut, AS menuntut pembongkaran permanen fasilitas Fordow dan Natanz, penghentian total program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, seperti Hezbollah dan Hamas. Namun, Iran menolak keras tuntutan tersebut karena menganggap telah melanggar kedaulatan negara.
Konflik semakin memanas setelah terjadinya perang 12 hari, mulai 13-24 Juni 2025. Israel menyatakan bahwa serangan dilakukan untuk mencegah program nuklir yang sedang dikembangkan oleh Iran. Serangan dilakukan dengan merusak berbagai fasilitas militer dan strategis. Situasi semakin meluas pasca Iran melakukan serangan balik dengan mengirim rudal balistik ke Israel. Perang 12 hari menjadi semakin berkepanjangan setelah AS ikut terlibat dengan menyerang 3 situs nuklir milik Iran.
Lalu, pada Sabtu, (28/02/2026) serangan udara digencarkan oleh Israel-AS dengan menyasar kota-kota besar, termasuk ibu kota Iran, Teheran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menganggap aksi tersebut sebagai operasi tempur yang masif dan masih terus berlangsung. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menegaskan bahwa serangan akan terus dilaksanakan selama dianggap masih diperlukan.
Serangan terhadap Sekolah Perempuan
Serangan udara yang dilakukan oleh Israel-AS turut menghantam sebuah sekolah perempuan di Kota Minab, Iran. Peristiwa tersebut terjadi pada pagi hari ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
Mengutip laporan CNN, lokasi sekolah hanya berjarak sekitar 61 meter dari pangkalan militer Iran. Namun, citra satelit menunjukkan bahwa kedua daerah telah terpisah setidaknya sejak tahun 2016.
Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa kurang lebih 160 orang siswi dilaporkan meninggal dunia atas serangan tersebut.
Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan menjadi korban serangan Israel-AS yang terjadi di kediaman sekaligus kantor Khamenei di Teheran. Selain Khamenei, anak perempuan, menantu perempuan, menantu laki-laki, serta cucu Khamenei pun turut menjadi korban dalam serangan ini.
Tak hanya keluarga Khamenei, tokoh penting pun turut dilaporkan menjadi korban serangan ini, termasuk Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dan Komandan Angkatan Bersenjata Korps Iran (IRGC), Mohammed Pakpour.
Atas peristiwa tersebut, Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung selama 40 hari sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok pemimpin politik dan keagamaan tertinggi yang telah memimpin Iran sejak 1989.
Serangan Balik Iran
IRGC merespons serangan Israel-AS dengan meluncurkan rudal balistik dan drone sebagai serangan gelombang pertama ke lokasi sipil dan wilayah infrastruktur vital di Tel Aviv, khususnya wilayah Aifa dan Safed. IRGC menyebutkan terdapat 27 pangkalan AS, pangkalan udara Tel Nof Israel, pangkalan militer tentara Israel di HaKirya, dan sejumlah kompleks industri pertahanan utama menjadi target serangan.
Akibat serangan tersebut, dilaporkan setidaknya 21 orang mengalami luka-luka dan 1 orang meninggal dunia.
Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyebut tindakan tersebut merupakan bentuk hak yang sah sebagaimana tercantum dalam Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menyusul serangan balik ini, Pemerintah Israel menyatakan status darurat khusus secara nasional.
Dampak konflik Israel-AS vs Iran
Dari sisi ekonomi, konflik Israel-AS vs Iran dinilai berpotensi mengguncang pasar minyak dunia. Mengutip SindoNews, Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menyatakan bahwa dampak paling cepat dari serangan ini berada sektor energi karena serangan tersebut memicu terjadinya kenaikan harga, terutama dari negara-negara pengimpor. Situasi ini berisiko semakin buruk jika Pemerintah Iran menutup Selat Hormuz, jalur perairan utama yang menjadi rute distribusi minyak dari negara produsen di Timur Tengah ke pasar dunia.
Selain sektor energi, sejumlah negara turut merasakan dampak dari meningkatnya ketegangan antara Israel-AS dengan Iran. Misalnya, Yordania dan Bahrain telah mengaktifkan tanda darurat dan mengimbau penduduknya untuk berada pada lokasi yang aman.
Selain Yordania dan Bahrain, Abu Dhabi pun turut terdampak dalam situasi ini, yang ditandai dengan beberapa kali terdengarnya suara ledakan. Maskapai nasional Qatar, Qatar Airways, juga menghentikan sementara operasional penerbangan menuju dan dari Doha usai konflik di Timur Tengah semakin memanas.
Respons Berbagai Negara
Memanasnya konflik Israel-AS vs Iran turut menuai respons dari berbagai negara di dunia. Pertama, kubu yang melegitimasi militer AS, seperti Kanada dan Australia. Kanada dan Australia menegaskan bahwa apa yang terjadi adalah hak Israel untuk mempertahankan diri. Lebih lanjut, keduanya menyatakan bahwa penyerangan terhadap militer Iran dilakukan untuk menjaga stabilitas kawasan.
Kedua, kutub yang mengutuk keras penyerangan Israel-AS, seperti Rusia, China, dan Turki. Pemerintah Rusia menyatakan bahwa apa yang dilakukan AS mencerminkan kesembronoan dan AS menjadikan diplomasi hanya sebagai alat untuk mempersiapkan perang.
Sejalan dengan Rusia, Pemerintah China menegaskan serangan Israel-AS merupakan bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan Iran. Selain itu, Pemerintah Turki pun turut mengutuk keras tindakan Israel-AS.
Ketiga, kubu penengah dan negara-negara yang terjebak di tengah konflik, seperti Uni Eropa dan Negara Teluk. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan bahwa Uni Eropa siap bekerja sama dengan Arab Saudi untuk menjaga stabilitas kawasan. Di samping itu, negara-negara teluk seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain berada pada posisi paling rentan karena menampung pangkalan militer AS.
Respons Indonesia
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto siap untuk menjadi mediator apabila disetujui oleh Israel-AS dan Iran.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheren untuk melakukan mediasi”, ujar Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui unggahannya di X.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyampaikan rasa duka atas wafatnya Khamenei. MUI mengecam keras serangan yang dilakukan Israel-AS sebagai bentuk pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip menjaga ketertiban dunia. Sementara itu, MUI menanggapi serangan balik yang dilakukan Iran merupakan bentuk pembelaan diri yang dilindungi oleh hukum internasional.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menjelaskan 4 langkah yang harus segera dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Langkah-langkah tersebut meliputi: mengecam keras tindakan Israel-AS yang melanggar prinsip internasional, mendesak AS untuk menahan diri agar konflik tidak meluas, meminta Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat, serta menyusun draf resolusi di Majelis Umum PBB yang mengutuk keras tindakan Israel.
Penulis: Monariska Angelina S
Editor: Fuji Mayumi Riyenti
Baca Artikel Menarik Lainnya!
Kelalaian Berakibat Kematian: Kajian Hukum Pidana...
02 August 2025
Waktu Baca: 4 menit
Baca Selengkapnya →
Bantuan dari Langit, Beras Berceceran di Tanah: Wa...
04 December 2025
Waktu Baca: 3 menit
Baca Selengkapnya →